oleh

KPw BI Jatim, A Difi Johansyah : Kontribusi PMTB Naik 28 Persen Terhadap PDRB Jatim

Detiknews.id Surabaya – Bank Indonesia hadir dalam East Java Investival (EJI) yang diselenggarakan oleh Pemprov Jatim. Kegiatan Seminar  Nasional “East Java Investment dengan tema Gaining Momentum Amidst The Stable Outlook” di Grand City Convention and Exhibition Surabaya, Jalan Walikota Mustajab Surabaya.

Di tengah gejolak ekonomi global, perekonomian Jawa Timur pada triwulan II 2019 berhasil tumbuh 5,72% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Nasional 5,05% (yoy) dan terakselerasi dibandingkan triwulan I 2019 sebesar 5,55% (yoy).

Foto : Difi A Johansyah, KPw BI dengan paparannya – detiknewsid/m9

Difi A. Johansyah, Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur mengatakan, pertumbuhan ekonomi ini, salah satunya didorong oleh peningkatan investasi (PMTB) yang memberikan kontribusi 27,89% terhadap total PDRB Jatim semester 1-2019.

” Upaya mendorong percepatan investasi perlu menjadi sebuah concern tersendiri apalagi bila kita ingin terus menekan defisit transaksi berjalan (current account deficit),” tutur Difi A. Johansyah, Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur.

Emil E. Dardak, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur menjelaskan, realisasi investasi Jawa Timur yang sampai dengan semester 1-2019 adalah sebesar Rp 32,05 trilyun menduduki posisi ke-4 nasional setelah Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Jawa Tengah.

” Kita masih bisa mendorong angka realisasi ini. Saat ini kita sedang mempercepat pembangunan sejumlah infrastruktur, nantinya memudahkan konektivitas industri, seperti percepatan proyek pembangunan infrastruktur jalan tol diberbagai titik, pembangunan jalan Pantai Selatan Jawa Timur, pengembangan sejumlah bandar udara termasuk Juanda, jalur kereta api dan sejumlah pelabuhan,” jelas Emil.

Ditempat yang sama, Joshua Pardede, chief economist Bank Permata memaparkan, upayamenekan defisit transaksi berjalan menjadi tantangan tersendiri di tengah gejolak kondisi ekonomi global.

” Perlambatan ekonomi Tiongkok yang saat ini terjadi cenderung berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekspor Indonesia. Padahal, impor Indonesia dari Tiongkok masih cenderung kuat. Belum lagi, isu brexit di Uni Eropa, fluktuasi harga komoditas global dan faktor eksternal lainnya,” jelasnya.

Menurut Reza Valdo Maspaitella,  Chairman for Regional Investment Development KADIN Indonesia, Jawa Timur menyimpan peluang tersendiri untuk pengembangan investasinya.

” Posisi Jatim sebagai penghubung antara bagian timur dan barat Indonesia serta pengembangan sejumlah kawasan industri terintegrasi di sejumlah wilayah menjadi keunggulan tersendiri bagi Jawa Timur dibandingkan provinsi lain,” ungkapnya. Jum’at (13/09/2019)

Harapannya, dengan seminar ini mampu menjadi etalase dan media promosi berbagai sektor investasi Jawa Timur. Didalamnya, ada berbagai rangkaian kegiatan, termasuk forum investasi dan business matching antara investor dengan pemilik proyek investasi. Pada hari pertama pelaksanaan kegiatan,  business matching berhasil memperoleh kesepakatan lebih dari Rp 300 Milyar baik untuk investasi maupun perdagangan.

Keunggulan Jatim ini semakin dikuatkan dengan hasil penilaian Tingkat Kemudahan Berbisnis (Ease of Doing Business) oleh Asia Competitiveness Institute (ACI) yang menempatkan Provinsi Jawa Timur sebagai peringkat pertama. (M9)

Komentar

Berita Terkait