Detiknews.id Surabaya – Kemenkeu Jatim, diwakili oleh Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jawa Timur, Saiful Islam, S.E., M.B.A., Ph.D, membahas, tentang perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Jatim 2026. Untuk target 2026, mengalami Peningkatan 6,05 persen (yoy). Target Penerimaan Pajak meningkat sebesar 12,49 persen, di tahun 2025.

Penerimaan Pajak naik 12,49 persen di 2025. Sedangkan, target APBN Jatim 2026, naik 6,05 Persen. Hal ini disampaikan Kepala Kanwil DJPb Jatim, Saiful Islam, dikegiatan Media Briefing. Didukung BI Jatim, OJK, dan LPS. Untuk perkembangan APBN Jatim 2026, berdasarkan transformasi prioritas anggaran negara, dalam APBN 2026. Ada dua poin penting, yaitu alokasi dan realisasi.
“Alokasi APBN Regional Jawa Timur 2026, dari sisi Pendapatan, Target 2026 mengalami Peningkatan 6,05 persen (yoy) dibandingkan Tahun Anggaran 2025. Kenaikan terjadi pada target Penerimaan Pajak meningkat sebesar 12,49 persen,” Kakanwil DJPb Jatim, Saiful Islam, Senin (09/02/2026)
Menurut Saiful, target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) meningkat 13,82 persen, kenaikan terjadi semua jenis PNBP baik PNBP Lainnya (Kementerian/Lembaga) , maupun PNBP BLU.
“Kenaikan pajak ini dari semua jenis pajak. Seperti PPH, PPN, PBB, dan Pajak lainnya. Begitu juga dengan Target Penerimaan Kepabeanan & Cukai meningkat 0,28 persen, terjadi pada sisi Cukai dan bea keluar. Namun dari sisi bea masuk mengalami penurunan target, hal ini dikarenakan Indonesia mengikuti berbagai perjanjian perdagangan bebas, atau Free Trade Agreement (FTA). Seperti ASEAN, RCEP, dan kerja sama bilateral,” jelasnya.
Saiful juga memaparkan, realisasi sementara APBN Regional Jawa Timur hingga 31 Januari 2026, Pertumbuhan realisasi pendapatan sebesar 0,07 persen (yoy). Di awal tahun ini sangat krusial realisasi 2026, melampaui realisasi 2025 pada periode yang sama.
“Sementara dari sisi Belanja, secara keseluruhan mengalami kontraksi 4,79 persen (yoy). Namun, jika dilihat secara persentase capaian, terhadap pagu anggaran. Semuanya mengalami pertumbuhan positif. Ini menunjukkan aktivitas ekonomi Jawa Timur yang bergairah, dan kepatuhan pajak yang meningkat,” pungkasnya.
Hal Ini menandakan, bahwa instansi pemerintah sudah mulai adaptif. Dengan proses pengadaan yang lebih cepat di awal tahun. Penyerapan belanja yang lebih cepat di awal tahun, akan memiliki efek multiplier (pengali), yang lebih besar bagi perekonomian rakyat. (M9)





Komentar