Kolaborasi Strategis PT Terminal Teluk Lamong dan KSOP Tanjung Perak, Optimalkan Zona Labuh

PT Terminal Teluk Lamong (TTL): optimalisasi Zona Labuh untuk percepatan layanan kapal domestik

Detiknews.id SurabayaPT Terminal Teluk Lamong (TTL) bersama regulator dan para pemangku kepentingan kepelabuhanan, di wilayah Tanjung Perak Surabaya. Terus mengambil langkah strategis, guna meningkatkan efisiensi layanan dan memperkuat peran Jawa Timur sebagai hubungan logistik nasional.

Kolaborasi Strategis PT Terminal Teluk Lamong dan KSOP Tanjung Perak, optimalkan Zona Labuh untuk Percepatan layanan kapal domestik. Ditandai dengan Penandatanganan Standar Operasional Prosedur (SOP) Penataan Zona Labuh 2 Tanjung Perak, sebagai respons atas meningkatnya aktivitas kepelabuhanan yang menuntut kecepatan layanan semakin tinggi.

Optimalisasi Penataan Zona Labuh 2, yang disebut EAZI (Express Anchorage Zone Service), digagas oleh TTL dan diimplementasikan melalui kolaborasi strategis bersama:

Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak, KSOP Gresik, Distrik Navigasi Tipe A Kelas I Tanjung Perak, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) (Sub Regional Jawa), PT Pelindo Jasa Maritim.

Kolaborasi ini mempertegas sinergi antara regulator, operator terminal, dan entitas jasa kepelabuhanan dalam mendukung transformasi layanan maritim yang lebih terintegrasi.

Layanan EAZI diterapkan secara terintegrasi. Pada tiga terminal yang dikelola TTL, yaitu: TPK Teluk Lamong, TPK Berlian dan TPK Nilam.

Fokus utama layanan ini adalah peningkatan pelayanan bagi kapal domestik, dengan menyediakan area tunggu prioritas bagi kapal berukuran maksimal 150 meter. Skema ini menghadirkan pengaturan pergerakan kapal yang lebih terencana, ketat, dan terukur.

Salah satu dampak signifikan dari EAZI adalah efisiensi waktu operasional. Waktu transisi kapal dari posisi lepas sandar hingga kembali sandar yang sebelumnya mencapai 4–6 jam. Kini ditargetkan menjadi maksimal 2 jam, tanpa mengesampingkan aspek keselamatan pelayaran dan kepatuhan terhadap regulasi.

Kepala KSOP Utama Tanjung Perak, Agustinus Maun, menyampaikan bahwa penataan Zona Labuh 2 tidak hanya meningkatkan kecepatan layanan, tetapi juga memperkuat keselamatan navigasi di perairan Tanjung Perak.

“Penataan Zona Labuh 2 merupakan langkah penting dalam inovasi layanan kepelabuhanan untuk memperlancar arus barang, mengingat Pelabuhan Tanjung Perak merupakan salah satu pintu utama perdagangan di Jawa Timur,” jelasnya.

Sebagai bagian dari komitmen terhadap keamanan dan ketertiban pelayaran, seluruh kapal yang memanfaatkan layanan EAZI wajib mengaktifkan Automatic Identification System (AIS). Serta mematuhi seluruh ketentuan operasional, termasuk larangan melakukan aktivitas di luar zona dan prosedur yang telah ditetapkan.

Direktur Utama TTL, David Pandapotan Sirait, menegaskan, bahwa keberhasilan EAZI merupakan hasil kolaborasi solid antar pemangku kepentingan.

“Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, perekonomian Jawa Timur tumbuh sebesar 5,33 persen sepanjang 2025, disertai peningkatan volume barang bongkar muat angkutan laut domestik sebesar 17,09 persen pada akhir 2025. Ini menuntut kesiapan infrastruktur dan manajemen ruang laut, yang semakin optimal, agar kelancaran rantai pasok tetap terjaga,” tegasnya.

Melalui optimalisasi Penataan Zona Labuh 2 yang diterapkan secara terintegrasi di TPK Teluk Lamong, TPK Berlian, dan TPK Nilam, PT Terminal Teluk Lamong berharap, dapat semakin memperkuat peran Pelabuhan Tanjung Perak sebagai hub logistik utama Indonesia Timur. Sekaligus mendukung distribusi barang di Jawa Timur serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. (M9)

Komentar

Berita Terkait