Detiknews.id Jakarta – Presiden Prabowo Subianto melakukan langkah yang jarang terjadi dalam sejarah politik nasional: mengumpulkan para pendahulunya, dalam satu meja di Istana Merdeka. Bukan untuk seremoni, bukan pula untuk pencitraan. Melainkan untuk berdiskusi serius, mengenai arah bangsa di tengah situasi global yang bergejolak.
Darmizal, Ketua Umum Relawan Jokowi (ReJO) for Prabowo-Gibran, menyebutkan, di ruang yang sarat makna itu, tampak hadir Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 RI Boediono, serta Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin. Hadir pula para mantan Menteri Luar Negeri, seluruh Ketua Umum Partai Politik, serta jajaran Kabinet Merah Putih.
Prabowo duduk di tengah, diapit Jokowi dan SBY, sebuah simbol kesinambungan kepemimpinan nasional. Berbicara lebih keras daripada seribu pernyataan politik.
Menanggapi momentum tersebut, Darmizal, menilai pertemuan ini sangat strategis.
“Mengapa pertemuan ini sangat penting? Karena konteksnya tidak main-main. Dunia sedang memanas. Eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel dan Iran di akhir Februari 2026, telah mengguncang tatanan geopolitik global. Harga energi bergejolak, stabilitas kawasan terancam, dan Indonesia sebagai negara besar tidak bisa tinggal diam,” ujar Darmizal.
Ia menambahkan, langkah Presiden Prabowo yang baru saja menyelesaikan kunjungan kenegaraan. Selama sebelas hari, ke Amerika Serikat dan Timur Tengah patut diapresiasi.
“Beliau tidak memilih berjalan sendiri. Beliau memilih mendengar. Menimba pengalaman para pendahulu, menyerap kebijaksanaan lintas generasi. Serta menghimpun masukan, demi merumuskan langkah mitigasi terbaik, bagi Indonesia. Ini bukan hal mudah bagi seorang pemimpin,” lanjutnya.
Menurut Darmizal, pertemuan tersebut mempertegas karakter kepemimpinan Prabowo.
“Inilah yang saya maksud ketika berulang kali mengatakan: Prabowo telah selesai dengan dirinya sendiri. Kepemimpinannya hari ini sepenuhnya untuk bangsa dan negara. Seorang pemimpin yang telah selesai dengan dirinya, tetap menjaga komunikasi, berdialog satu meja. Dengan para pendahulunya, dan tidak ragu meminta saran mereka,” ungkapnya.
Terkait ketidakhadiran Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, yang berhalangan karena agenda internal partai di Bali. Darmizal menilai, representasi oleh Ketua DPR RI Puan Maharani, tetap menunjukkan pesan persatuan.
“Ini menandakan bahwa panggilan kebangsaan tetap direspons. Semua elemen bangsa hadir, baik secara langsung maupun melalui representasi,” jelas Darmizal.
Darmizal menegaskan, Silaturahmi dan Diskusi Kebangsaan di Istana Merdeka, bukan sekadar agenda seremonial. Melainkan simbol bahwa kepemimpinan nasional, bersifat berkesinambungan, tidak terputus oleh periode jabatan.
“Di saat dunia bergejolak, Indonesia justru menunjukkan kematangan. Pemimpin masa kini dan masa lalu duduk bersama, bukan untuk saling menyalahkan, melainkan saling menguatkan. Di sinilah letak kenegarawanan Prabowo Subianto, bukan pada retorika. Tetapi pada tindakan nyata, membangun rekonsiliasi dan konsolidasi nasional, ketika bangsa membutuhkannya,” tegasnya.
Menutup pandangannya, Darmizal berharap semangat persatuan tersebut terus terjaga.
“Indonesia membutuhkan pemimpin yang kuat. Tetapi lebih dari itu, Indonesia membutuhkan pemimpin yang mau mendengar, egaliter, dan berdialog. Demi menemukan solusi kebangsaan,” tutup tokoh nasional asal Sumatera Barat. (M9)




Komentar