Detiknews.id Surabaya – Ekonomi di Jawa Timur, tumbuh 5,33 persen pada 2025. Ini merupakan capaian kinerja positif dari Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Jawa Timur kolaborasi, dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Jawa Timur, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) II Jawa Timur.
Sinergitas BI, didukung OJK, Kemenkeu dan LPS. Melaksanakan kegiatan Media Briefing bertema “Sinergi dan Kolaborasi Melanjutkan Transformasi dan Menjaga Stabilitas Ekonomi Jawa Timur”. Untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi, dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Serta mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang berkelanjutan.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 2025, sebesar 5,33 persen (year on year/yoy). Ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2024, yang tercatat 4,93 persen.

Kapolda Jatim Sambut Kunjungan Kehormatan Pangdiv II Kostrad, Tingkatkan Sinergitas TNI-Polri
“Capaian tersebut didukung oleh inflasi yang tetap terkendali. Pada Januari 2026, inflasi Jawa Timur tercatat sebesar 3,29 persen (yoy), masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen,” terangnya.
Ibrahim menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, terutama ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, kinerja investasi yang tetap solid, serta aktivitas ekspor. Dari sisi penawaran, akselerasi pertumbuhan terjadi pada lapangan usaha industri pengolahan, sektor pertanian, serta sektor akomodasi dan makan minum.
“BI memprakirakan kinerja ekonomi Jawa Timur pada 2026, tetap terjaga pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen (yoy),” tuturnya.
Sejalan dengan itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Regional Jawa Timur, Horas V. M. Tarihoran, menyampaikan, bahwa hingga Desember 2025 perbankan di Jawa Timur menunjukkan kondisi yang stabil.
“Total penyaluran kredit mencapai Rp625,66 triliun atau tumbuh 1,90 persen (yoy), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 817,59 triliun dengan pertumbuhan 3,50 persen (yoy). Stabilitas perbankan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di level 3,37 persen. Serta permodalan yang kuat, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 31,38 persen,” ungkapnya.
Kepala Kantor Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur, Saiful Islam, menambahkan, bahwa realisasi belanja APBN di Jawa Timur, hingga Desember 2025 tumbuh kuat.
“Terutama ditopang oleh Transfer Ke Daerah yang tumbuh 0,74 persen. Belanja APBN terus dioptimalkan sebagai shock absorber perekonomian, melalui berbagai program strategis. Antara lain pemeriksaan kesehatan gratis, program makan bergizi gratis, serta sekolah rakyat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala LPS II Provinsi Jawa Timur, Bambang S. Hidayat, menegaskan, komitmen LPS, dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan.
“Hingga saat ini, LPS menjamin lebih dari 665 juta rekening simpanan nasabah di Bank Umum. Serta 15,7 juta rekening di BPR/BPRS, atau mencakup 99,97 persen, dari total rekening simpanan,” ujarnya.
Melalui inovasi dan transformasi kebijakan yang pro-growth, mereka optimistis dapat berkontribusi signifikan. Dalam menavigasi tantangan ekonomi, dan memperkuat fondasi ekonomi Jawa Timur. Demi terwujudnya Indonesia yang tangguh dan mandiri. (M9)




Komentar