Detiknews.id Surabaya – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Provinsi Jawa Timur (KPw BI Jatim), Ibrahim, menyebutkan, perekonomian Indonesia menunjukkan peningkatan perkembangan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK), yang terkendali pada kisaran 25±1 persen.

BI Jatim, mencatat ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,33 persen. Untuk 2026, Jawa Timur mengalami deflasi IHK, sebesar -0,20 persen (mtm), atau secara tahunan tercatat 3,29 persen (yoy) dan masih terjaga. Paparan Media Breiefing, didukung juga dari LPS, OJK dan Kemenkeu Jatim. Dengan tema, Sinergi kolaborasi melanjutkan transformasi, dan menjaga stabilitas ekonomi Jawa Timur. Untuk mewujudkan Indonesia Tangguh dan Mandiri.
“Pada Januari 2026, perkembangan harga di Jatim masih terkendali. Akibatnya, peningkatan pasokan Hortikultura dan normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Nataru. Pada Januari 2026, Jawa Timur mengalami deflasi IHK, sebesar -0,20 persen (mtm) atau secara tahunan tercatat 3,29 persen (yoy), dan masih terjaga, dalam rentang sasaran 25±1 persen,” tutur Kepala KPw BI Jatim, Ibrahim, Senin (09/02/2026).
Menurut Ibrahim, kinerja ekonomi Jatim pada Triwulan ke IV dan sepanjang tahun 2025, tumbuh lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
“Ekonomi Jawa Timur triwulan IV 2025 tumbuh meningkat 5,85 persen (yoy), didorong oleh kenaikan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan ekspor di tengah investasi, yang tumbuh lebih landai. Di sisi penawaran disokong oleh industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan akomodasi makan minum,” ungkapnya.
“Sepanjang tahun 2025, ekonomi Jawa Timur juga tumbuh lebih tinggi 5,33 persen (yoy), ditopang oleh konsumsi RT, investasi dan net ekspor. Dari sisi penawaran didukung oleh industri pengolahan, pertanian, dan akomodasi makan minum,” jelasnya.
Untuk diketahui, Ekonomi Indonesia pada Triwulan IV-25 tumbuh meningkat sebesar 5,39 persen (yoy), ditopang oleh akselerasi konsumsi rumah tangga dan investasi. Serta belanja pemerintah, dan permintaan eksternal yang tetap positif.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia keseluruhan tahun 2025, juga tumbuh lebih tinggi sebesar 5,11 persen (yoy), didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan permintaan eksternal. Serta tetap kuatnya belanja pemerintah.
Seluruh kebijakan Bank Indonesia, diarahkan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan tetap mengendalikan inflasi, dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Adapun langkah Bank Indonesia, antara lain : Penurunan suku bunga, Stabilitas nilai tukar rupiah, Ekspansi likuiditas moneter. Juga pembelian SBN dari pasar sekunder, Kebijakan insentif likuiditas, Akselerasi sistem pembayaran QRIS.
Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan Akselerasi penyaluran bantuan sosial dan elektronifikasi keuangan. Sistem Pemerintah Daerah, pembayaran perluasan QRIS. Sinergitas untuk mendukung ekonomi digital dengan kerja sama QRIS.
Secara spasial, seluruh kota IHK di Jawa Timur mencatatkan deflasi, kecuali Sumenep. Inflasi secara tahunan, terjadi disebabkan faktor low base effect. Seiring penerapan diskon tarif listrik, pada bulan Januari tahun 2025. Serta tren kenaikan harga emas.
“Koordinasi yang erat dalam TPID, menjadi faktor utama inflasi masih terkendali, dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang Inklusif,” pungkas Ibrahim. (M9)





Komentar