Kain Kulit Kayu Beringin Dari Rampi, Nilai Nasibmu Bagaimana?

Detiknews.id, SULSEL – Melestarikan tradisi dan budaya kini menjadi tantangan tersendiri di jaman modernisasi digital ini. Dengan menelusuri Kecamatan Rampi yang di pegunungan terpencil, Jurnalis media ini berkunjung ke pembuat pengrajin kulit kayu, untuk tukar pikiran, baik secara adat maupun lembaga kesenian dan pengrajin Suku Rampi yang belum terstruktur kelompoknya.

Kalau melihat secara langsung di Desa Onondowa Kecamatan Rampi, para generasi muda tak tertarik menekuni kerajinan ini lantaran harga kain kulit kayu murah, sementara, jumlah pengrajinnya kini terus berkurang karena banyak yang sudah berusia tua bahkan ada yang sudah meninggal. Kain ini biasanya dipakai untuk baju sehari-hari, pernikahan hingga upacara adat dan pesta-pesta lainnya.

Jurnalis media ini prihatin melihat dan akan kepunahan pengrajin baju, celana, topi, selendang, ikat kepala dari kulit kayu ini. Ibu Shinta panggilan akrabnya mewanti-wanti akan kepunahan pengrajin kulit kayu, sehingga pandangan dan motivasi yang diberikan untuk membangun kelompok pengrajin yang berada di Desa Onondowa sangat diapresiasi.

“Herlina Shina takutnya pengrajin Kulit kayu di kampung kami bisa punah, karena belum ada generasi to Rampi yang bisa melanjutkan yang saya tekuni peninggalan dari nenek moyang kami,” tuturnya pada media ini.

Tak berhenti disitu wartawan media ini, juga akan akan mempromosikan sejumlah produk dari kain kulit kayu, sehingga nilainya bertambah dengan mengusulkan kepada ibu Shinta untuk berkelompok dengan membuat kelompok Lembaga Adat Kesenian dan pengrajin yang terstruktur.

“Membuat kain dari kulit kayu beringin bukanlah mata pencaharian utama, jadi produksinya masih sangat terbatas,” terang ibu Shinta.

Mungkin Anda Suka

Komentar

Berita Terkait