OJK Nilai Sektor Jasa Keuangan Tetap Solid di Tengah Ketidakpastian Global

Penilaian RDKB OJK, pada 30 September 2026, fundamental IJK nasional masih solid dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi

Detiknews.id Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga, di tengah ketidakpastian geopolitik, kenaikan inflasi global, dan pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara.

Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, pada 30 September 2026. OJK menyebut fundamental industri jasa keuangan nasional masih solid dan terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kepala Direktorat Komunikasi Publik OJK Sekar Putih Djarot mengatakan, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, proyeksi tersebut membaik dibandingkan perkiraan sebelumnya, terutama ditopang peningkatan investasi dan perdagangan terkait pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Namun, momentum pertumbuhan global masih menghadapi sejumlah tantangan. Eskalasi konflik geopolitik dan kenaikan kembali harga minyak mendorong inflasi global. Selain itu, fenomena very strong El Niño berpotensi meningkatkan harga pangan dan komoditas pertanian.

“Kenaikan inflasi telah memicu kebijakan suku bunga global higher for longer,” kata Sekar.

Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan suku bunga kebijakan di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Pasar juga masih memperkirakan kenaikan suku bunga pada akhir 2026, yang berpotensi berlanjut hingga 2027.

Tekanan ekonomi global turut terlihat dari imbal hasil obligasi pemerintah yang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan Eropa kembali menyentuh level sebelum 2008, sedangkan Jepang mencapai level sebelum 1997.

“Kenaikan ini turut dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah dan peningkatan penerbitan obligasi jangka panjang oleh hyperscaler untuk investasi terkait AI,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, perekonomian Indonesia dinilai relatif stabil. Indikator ekonomi terkini menunjukkan inflasi domestik masih terkendali sesuai target pemerintah, meskipun tekanan inflasi global meningkat.

Inflasi yang terjaga turut mendukung permintaan domestik. Konsumsi masyarakat yang tetap kuat menjadi salah satu faktor penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Sekar mengatakan, Organisasi untuk kerja sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026, sebesar 0,5 persen.

“Peningkatan proyeksi tersebut mencerminkan kepercayaan global, terhadap daya tahan perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian,” ungkapnya.

Perkembangan ekonomi domestik juga didukung kontribusi sektor keuangan. OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga dengan fundamental industri yang solid.

Kondisi tersebut menjadi modal bagi sektor jasa keuangan, untuk terus mendukung aktivitas ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi perekonomian global. (M9)

Simpan sebagai Kenangan

Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.

Komentar

Berita Terkait