oleh

Bank Indonesia Jatim Tingkatkan Ekonomi Masyarakat dengan Edukasi Porang

Detiknews.id Surabaya – Dalam rangka meningkatkan perekonomian petani, Bank Indonesia memberikan edukasi secara daring melalui Ngopi Volume 27 dengan tema “Porang : Dulu Liar Kini diincar”. Menghadirkan nara sumber antara lain Harmanta – Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Didik Kuswandani – Kepala Desa Klangon, Paidi – Petani Porang Viral, Dr. Doddyk Pranowo, STT., M.Si – Akademisi Universitas Brawijaya dan pejabat Bank Indonesia lainnya.


info

DetikNews.ID



Ada yang Menarik


lanjut baca berita


Harmanta, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menuturkan, Porang, tanaman umbi-umbian tengah populer dibicarakan masyarakat, tanaman liar yang sekarang menjadi viral. Namun demikian, potensi porang memang sangat besar melihat kebutuhan dan manfaatnya pada beberapa industri. Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung.

“Glucomanan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang. Selain itu pengembangan porang dari hulu sampai hilir juga memiliki peluang yang besar. Pengolahan porang dari mulai umbi, Chip Porang sampai dengan produk akhir memiliki added value yang besar, sehingga memiliki potensi nilai ekonomis yang besar dan mampu masuk ke pasar global,” jelasnya.

Ditempat yang sama, Didik Kuswandani – Kepala Desa Klangon menjelaskan, sejak jaman dahulu, mata pencaharian utama masyarakat desa Klangon adalah berkebun di lahan Perhutani dan masuk dalam impres desa tertinggal. Salah satu tanaman yang menjadi komoditas tanam pada lahan hutan tersebut adalah berbagai macam tanaman rempah hingga dengan tanaman Porang.

“Dari berbagai macam tanaman tersebut pada tahun 1985 dibentuk kerjasama antara Desa Klangon dengan Perhutani untuk pengembangan tanaman Porang, dimana pada saat itu harga porang masih rendah sebesar Rp 100,-/kg,” paparnya.

Lanjut Didik, melalui Kerjasama tersebut, dibentuklah demplot percontohan budidaya tanaman porang. Berawal dari hal tersebut masyarakat Klangor mulai menanam porang pada lahan-lahan yang dapat dimanfaatkan, sehingga hampir 100 persen warga Klangon saat ini telah menanam dan membudidayakan porang.

“Ke depan, untuk dapat menambah nilai tambah budidaya tanaman Porang diharapkan mengkolaborasikan tanaman porang dengan tanaman lainnya dengan sistem irigasi melalui mata air pegunungan. Melalui Pemerintah Daerah juga harapkan budidaya tanaman porang juga dapat diadopsi dan dikembangkan di wilayah lainnya,” ujarnya.

Menurut Paidi, Petani Porang Viral,

tanaman Porang dianggap hanya bisa tumbuh pada wilayah hutan di lereng gunung. Namun demikian pada tahun 2010 dikembangkan pola rekayasa tanam tanaman Porang pada lahan perkebunan lainnya, seperti contoh pada naungan tanaman singkong dengan modal seminimal mungkin.

“Melalui rekayasa tanam tanaman Porang dengan lahan perkebunan/lahan pertanian didapatkan satu umbi porang (katak) dapat menghasilkan 7 bulbil tanaman Porang. Saat ini telah dibuka laboratorium terbuka untuk pembelajaran rekayasa tanam budidaya Porang yang dapat dipelajari masyarakat luas,” ungkapnya.

Dr. Doddyk Pranowo, STT., M.Si – Akademisi Universitas Brawijaya memaparkan, peluang bisnis berbahan baku Porang yang memiliki potensi besar saat ini banyak menjadi produk olahan makanan seperti : Mie Shirataki, Beras Konyaku, Mie Shirataki Instant, Pasta Porang, Konyaku, Boba dan turunan makanan lainnya digolongkan sebagai healthy food. Selain itu produk turunan Porang dapat diolah sebagai bahan baku produk kecantikan seperti : butiran pembersih wajah, spons pembersih wajah, supplement diet, pengental alami, pembersih wajah.

Doddyk menambahkan, dengan potensi Porang yang cukup besar terutama di pasar global, diharapkan pasar dalam negeri juga dapat didukung serta diperkuat dalam menyerap produk hasil pengolahan Porang, ditengah tantangan branding produk porang yang cenderung masuk ke produk kelas menengah ke atas.

“Harapannya, dengan dukungan inovasi dalam populernya produk olahan Porang menjadi fokus pengembangan pasar porang dalam negeri, sehingga tanaman porang tidak hanya dinikmati oleh pasar luar negeri namun juga dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia,” tandasnya.

Porang sebelum menjadi produk olahan akhir, umbi porang terlebih dahulu diolah menjadi chips yang dikeringkan melalui pengeringan oven atau dikeringkan secara manual (penjemuran matahari). Setelah menjadi chips yang kering, umbi porang diolah menjadi tepung porang sampai dengan ekstrak Glukomannan. Ekspor porang pada tahun 2019-2020 sebesar 20,5 Juta Kg Chips atau setara dengan 136 Juta Kg Porang Basah. Jika dirata-ratakan kembali produktivitas lahan porang adalah sebesar 70ton/Ha. (M9)

Mungkin Anda Suka

Komentar