Waspada Virus Nipah! Kenali Penyebab dan Gejalanya

Penyakit mematikan dengan angka kematian hingga 75 persen

Detiknews.id Surabaya – Waspada Virus Nipah, infeksi virus nipah pada manusia dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut hingga ensefalitis fatal. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk virus nipah. Apa Itu Virus Nipah? Penyakit mematikan dengan angka kematian hingga 75 persen.

Badan Karantina Indonesia (Barantin) meningkatkan kewaspadaan, memperkuat langkah-langkah pencegahan masuk dan menyebarnya Virus Nipah (Nipah Virus/ NiV), seiring meningkatnya laporan kasus di beberapa negara Asia Selatan.

Kepala Barantin, Sahat M Panggabean menegaskan, bahwa langkah ini bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat, penguatan ketahanan pangan nasional. Serta pencegahan masuk dan tersebarnya penyakit hewan menular berbahaya, ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

“Upaya penguatan pengawasan tersebut dilaksanakan oleh Barantin. Secara terintegrasi melalui pendekatan manajemen risiko, sistem karantina modern, serta sinergi lintas sektor,” ungkapnya. 

Virus Nipah, secara alami menyebar melalui urin, saliva (air liur) kelelawar, sisa makanan, buah, nira, dan minuman yang terkontaminasi. Sekresi pernapasan dan saliva babi terinfeksi, serta air minum dan lingkungan yang tercemar.

Sahat menjelaskan, bahwa penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui hewan hidup, yaitu kelelawar (Pteropus spp.), babi, dan kuda yang berasal dari India atau negara yang tertular, atau belum bebas virus nipah.

“Selain melalui hewan hidup, penularan virus ini juga dapat ditularkan melalui produk hewan, produk tumbuhan, lingkungan. Serta sarana angkut yang terkontaminasi. Meskipun hingga saat ini belum terdapat laporan kasus di Indonesia, faktor ekologi. Serta lalu lintas perdagangan dan pergerakan media pembawa menimbulkan potensi risiko masuknya penyakit tersebut ke wilayah Indonesia,” jelasnya.

Virus Nipah juga memiliki kemampuan bertahan dalam kondisi lingkungan tertentu: termasuk pada buah, air minum, serta permukaan yang terkontaminasi, sehingga meningkatkan risiko penularan tidak langsung. 

Penyebab dan Penularan ke manusia: melalui konsumsi nira kurma mentah yang terkontaminasi, kontak dengan hewan terinfeksi, konsumsi daging hewan sakit yang kurang matang.  Serta kontak langsung dengan penderita melalui cairan tubuh. Melalui sekresi pernapasan babi atau melalui buah dan jus terkontaminasi, oleh sekresi kelelawar. Seperti buah kurma atau jus kurma yang tidak dipasteurisasi.

Gejalanya berupa: gangguan dasar pernapasan dan neurologis, tremor otot disertai kelemahan anggota. Seperti influenza, demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, dan lemas, sindrom gangguan pernapasan akut, keluarnya cairan hidung, dan batuk keras dan aborsi. Juga bisa pendarahan saluran pencernaan, dan gangguan ginjal, dalam beberapa kasus menyebabkan kematian.

Wabah Nipah terjadi hampir setiap tahun di beberapa bagian Asia, seringkali di India, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Bangladesh, tercatat jumlah infeksi tertinggi. Terjadi, karena kelelawar buah yang menularkan virus tersebut, merupakan hewan asli daerah-daerah ini. Sekarang sekelompok Kelelawar dan burung sedang bermigrasi ke Indonesia.

Ia mengimbau pada masyarakat, agar tidak membawa hewan dan produk hewan secara ilegal, menghindari konsumsi produk tanpa jaminan keamanan, melaporkan temuan hewan sakit atau kematian tidak wajar. Serta menjaga kebersihan dan higienitas.

“Virus Nipah dapat dinon-aktifkan pada suhu 60˚C selama 60 menit, juga rentan terhadap sabun dan desinfektan umum, pelarut lipid (alcohol dan eter) dan larutan natrium hipoklorit. Diharapkan, untuk tetap waspada, tidak panik. Serta mendukung penguatan sistem karantina nasional secara berkelanjutan,” pungkasnya. (M9)

ads

Komentar

Berita Terkait