Detiknews.id Surabaya – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur. Memperkuat sinergi, untuk mendorong investasi berkualitas. Sebagai upaya menjaga pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Sinergitas BI Jatim bersama OJK dan Pemprov, dalam penguatan diwujudkan melalui penyelenggaraan High Level Meeting (HLM) Forum Investasi, Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), dan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), digelar di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
Forum tersebut menjadi wadah koordinasi strategis, antar otoritas dalam memperkuat kolaborasi. Guna meningkatkan investasi, mempercepat transformasi ekonomi daerah. Serta mendorong kesejahteraan masyarakat.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, mengatakan stabilitas makro ekonomi yang terjaga, menjadi modal utama dalam meningkatkan kepercayaan investor.
“Jawa Timur memiliki daya tarik kuat, sebagai tujuan investasi berkat letak strategis. Dukungan infrastruktur yang semakin baik, serta struktur ekonomi yang dinilai resilien,” tuturnya.
Menurutnya, investor tidak mencari daerah yang sempurna. Investor mencari daerah yang responsif, kolaboratif, dan memiliki komitmen kuat. Ini semua dimiliki Jawa Timur.
Tantangan ke depan adalah menghadirkan investasi yang semakin berkualitas. Mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, memperkuat hilirisasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan 2026 tercatat mencapai 5,96 persen secara tahunan (year on year). Dengan tingkat inflasi yang tetap terkendali, di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Timur, Dyah Wahyu Ermawati, menyebut integrasi Forum Investasi, TP2ED, dan TPAKD merupakan langkah strategis, untuk memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Upaya tersebut diarahkan pada penyiapan proyek investasi siap ditawarkan atau Investment Project Ready to Offer (IPRO), percepatan pengembangan kawasan industri. Serta peningkatan daya saing investasi Jawa Timur,” terangnya.
Pelaksana Harian Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Horas V. M. Tarihoran, menegaskan, “Pentingnya memperluas akses pembiayaan melalui sektor jasa keuangan guna mendukung investasi, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan inklusi keuangan di daerah,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, M. Nashrul Wajdi, menyampaikan, “Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, akan menghasilkan basis data ekonomi yang lebih komprehensif. Sebagai dasar penyusunan kebijakan investasi, pembiayaan, dan pengembangan ekonomi daerah,” tegasnya.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam arahannya menekankan bahwa investasi berkualitas harus sejalan dengan penguatan ketahanan pangan, peningkatan daya saing daerah, dan kesejahteraan masyarakat.
“Kami mendorong percepatan penyelesaian Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), Lahan Baku Sawah (LBS), dan Lahan Sawah Dilindungi (LSD), sinkronisasi tata ruang, pengembangan kawasan industri, penguatan IPRO, serta penyelesaian berbagai hambatan investasi,” jelasnya.
Peluncuran East Java Investment Forum (EJIF) 2026, menutup momentum. Dalam memperkuat promosi investasi Jawa Timur, kepada investor domestik maupun internasional.
Melalui sinergitas Pemorov Jatim, OJK, BPS, dan para pemangku kepentingan. BI Jatim berharap, investasi berkualitas dapat terus tumbuh. Sehingga Jawa Timur semakin kompetitif, sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional, yang inklusif dan berkelanjutan. (M9)
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.





Komentar