Detiknews.id Jakarta – Maret Samuel Sueken adalah Praktisi senior Engineering, Procurement, Construction and Commissioning (EPCC), Komisaris Independen PT Rekayasa Industri (Rekind) dan Ketua Umum Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP). Mendorong penguatan ekosistem EPCC dan Transport & Installation (T&I) nasional. Sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan kedaulatan industri Indonesia.

“Indonesia hari ini gegap gempita menyuarakan hilirisasi sebagai salah satu kunci menuju Indonesia Emas 2045. Namun, sebagai engineer yang puluhan tahun terlibat dalam eksekusi proyek besar, termasuk sektor offshore di dalam dan luar negeri, saya melihat ada satu mata rantai penting yang belum cukup dibicarakan, yaitu: hilirisasi harus memindahkan kemampuan, bukan hanya produk,” tutur Maret Samuel Sueken
Menurutnya, hilirisasi jangan berhenti pada pembangunan smelter, kilang, pabrik atau fasilitas energi di dalam negeri.
“Pertanyaan mendasarnya adalah: siapa yang merancang, membangun, memproduksi, mengangkut, memasang dan mengoperasikannya? Dan di mana kemampuan itu tinggal setelah proyek selesai?,” jelas Maret.
Indonesia masih memiliki keterbatasan perusahaan nasional. Dengan kemampuan terintegrasi kelas dunia di bidang Engineering, Procurement, Construction and Commissioning (EPCC) dan Transport & Installation (T&I).
Kehadiran perusahaan global tentu tidak perlu ditolak karena teknologi dan pengalaman mereka tetap dibutuhkan. Persoalannya bukan asing versus nasional, tetapi seberapa besar kemampuan strategis yang dapat dibangun dan ditinggalkan di Indonesia.
EPCC Komplit: Otak, Tangan dan Kaki
Menurut Maret, ekosistem EPCC nasional harus dibangun secara utuh: “otak, tangan dan kaki”.
Otak adalah engineering, technology, digital engineering, project management, cost engineering dan technology integration, intellectual capital yang menentukan kemampuan bangsa merancang dan menguasai teknologi.
Tangan adalah fabrication, manufacturing, modularization, assembly dan industrial supply chain untuk mewujudkan desain menjadi produk dan fasilitas nyata.
Kaki adalah jetty, heavy transport, heavy lifting, marine logistics, offshore support dan installation. Sebab, kita dapat memiliki engineering hebat dan fabrication yard besar, tetapi tanpa kemampuan membawa dan memasangnya ke lokasi proyek, ekosistem kita tetap tidak lengkap.
“Otak merancang. Tangan membuat. Kaki membawa dan memasang,” terang Maret.
Jika salah satu hilang, terjadi value leakage: nilai ekonomi dan kemampuan strategis proyek kembali keluar negeri. Karena itu, TKDN seharusnya tidak sekadar mengukur berapa persen kandungan lokal, tetapi berapa banyak kemampuan industri yang akhirnya tinggal di Indonesia.
Rekind: Dari National Champion Menuju Global EPCC Player
Indonesia memiliki aset strategis untuk membangun ekosistem tersebut, salah satunya Rekind. Dengan pengalaman lebih dari empat dekade di bidang engineering dan EPCC, SDM, project references, engineering database, sistem manajemen proyek dan jaringan vendor, Rekind telah memiliki fondasi “otak”.
Namun, untuk menjadi EPCC player kelas dunia, Rekind perlu memperkuat “tangan” dan “kaki”. Di sinilah integrasi aset dan kemampuan BUMN. Serta perusahaan nasional, termasuk infrastruktur kepelabuhanan dan kawasan industri Pelindo, kemampuan maritim dan fasilitas industri PT PAL, PT Industri Kapal Indonesia (IKI). Serta ekosistem nasional lainnya, dapat diarahkan menjadi industrial execution platform Indonesia.
“Rekind tidak cukup hanya diselamatkan. Rekind harus ditransformasikan,” ujarnya.
Hilirisasi mineral, kedaulatan energi, petrokimia, ketahanan pangan, geothermal, energi terbarukan dan infrastruktur strategis harus menjadi school of excellence. Untuk membangun engineering, teknologi, fabrikasi, T&I, SDM dan rantai pasok nasional.
“Jangan hanya membangun pabrik. Bangun juga kemampuan bangsa untuk membangun pabrik tersebut,” pungkas Maret.
Tujuan akhirnya bukan menutup diri dari pemain global, melainkan melahirkan global EPCC player dari Indonesia, dengan Owner Merah Putih, Engineering Merah Putih, Technology Merah Putih, Industri Merah Putih, dan kemampuan bersaing di pasar dunia. (M9)
Simpan sebagai Kenangan
Unduh artikel ini dalam format visual halaman koran klasik.




Komentar