Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Langkah Politik TGB Dan Pil Pahit Simalakama

0 65

Oleh Ahmad Sirulhaq*

Opini, Detiknews – Tidak ada yang perlu dicemaskan dengan afiliasi politik Tuan Guru Bajang (TGB) – karena selain dikenal sebagai tokoh agama, ia sekaligus adalah politisi. Sebagai seorang politisi maka ia tentu harus terus mencari peluang dalam posisi pemerintahan, termasuk peluang pemerintahan di pusat manakala posisinya di daerah (NTB) sudah tidak memungkinkan lagi untuk berkiprah. Pasca berakhirnya kepemimpinannya beberpa bulan ke depan setelah gubernur baru nanti dilantik, buat apa lagi tinggal di NTB? Lagipula, untuk seseorang yang telah menjadi memimpin dua periode, bukankan mengatasi post power syndrome itu berat? Persoalannya hanya satu, dia mau jadi apa dan bagaima caranya? Sekarang, katakanlah TGB mau nyapres atau nyawapres.

Politik-tengik presidential threshold hari ini telah melucuti kemungkinan beberapa konfigurasi calon-calon presiden atau wakil presiden alternatif, yang kebetulan kunci utamanya dipegang oleh partai-partai pendukung pemerintah, katakanlah PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, PKB, dan kawan-kawan. Dengan presidential threshold mencapai 20% suara kursi partai politik atau gabungan partai politik, maka untuk kasus hari ini diprediksi hanya akan muncul dua sampai tiga pasangan calon presiden. Dari tiga kemungkinan itu, yang sudah agak terang hanya dua, dan itu masih stok lama, yaitu poros Jokowi dan dan poros Prabowo. Poros ketiga masih sedang diraba-raba kemungkinannya, yang lebih banyak dimotori oleh kubu Cikeas. Dalam kondisi yang demikian, pertanyaannya, langkah apa yang paling realistis yang bisa dilakukan TGB jika tetap bersikukuh untuk meraih peluang itu? mari kita timbang satu-satu.

Pilihan pertama. Kebetulan, yang sekarang lagi marak diributkan oleh masyarakat NTB ialah adanya sinyal yang kuat dari TGB bahwa haluan kapal mulai mengarah ke kubu Jokowi. Sinyalemen ini sekurang-kurangnya bisa ditangkap dari adanya sikap dari kelompok Projo di NTB untuk menduetkan Jokowi-TGB, dan yang kedua ialah adanya pernyataan TGB sendiri, yang diberitakan di berbagai media belakangan ini, bahwa alangkah fairnya kalau Jokowi diberi waktu dua periode. Bagi Ricoeur, filsuf Prancis abad ke-20, teks adalah ruang yang terbatas untuk semua jenis tafsir yang mungkin, sehingga paling tidak ada dua atau tiga inferensi yang bisa kita tarik dari langkah-langkah politis TGB akhir-akhir ini. Inferensi yang pertama ialah TGB lebih memilih untuk berpasangan dengan Jokowi daripada Prabowo. Inferensi yang kedua ialah TGB hendak mengirim alarm yang kuat pada kubu Cikeas, yang siang dan malam tidak pernah berhenti meneriakkan AHY dan AHY, agar Demokrat membuka mata, bahwa selain AHY masih ada TGB dan yang lainnya. Inferensi yang ketiga — dan ini jarang disadari oleh orang-orang, termasuk fans berat TGB yang terpikat karena “ketuanguruanya” — bahwa TGB adalah politisi, tepatnya politisi yang cerdik.

Robert

Kita kembali ke persoalan awal, seberapa besar kans TGB untuk menjadi penumpang belakang tanpa “ongkos politik yang berarti”, untuk masuk dalam perahu yang telah bersusah payah dibangun oleh partai-partai politik pendukung pemerintah dan tiba-tiba duduk di samping nakhoda? Pada saat yang sama, Muhaimin, Romahurmuziy, dan lain-lain dari awal telah berdesak-desakan mengincar posisi duduk paling depan. Namun begitu, bagi TGB, sepertinya harapan untuk duduk berdampingan dengan Jokowi pada Pilpres 2019 lebih sedikit terang di sini, setidaknya jika dibandingkan dengan masuk dalam gelombang gumuruh tagar “2019 Ganti Presiden”. Alasannya, jika partai-partai pendukung pemerintah masih terus-menerus bersitegang untuk berebut kursi cawapres, maka tidak mustahil Jokowi akan menjatuhkan pilihannya pada TGB, calon di luar partai politik. Di samping untuk meredam rasa kecemburuan sosial, bukankah tidak baik berlayar pada ombak yang terus-menerus menghimpit padahal waktu tidak bisa menunggu?

Berikutnya, pilihan kedua, adalah TGB-Prabowo. Sedari awal, duet ini sudah disuarakan, bukan hanya oleh think thank TGB, tapi juga oleh masyarakat NTB secara umum. Awalnya, duet ini dianggap lebih tepat lantaran kepawaian kubu ini menggoreng isu SARA. Menduetkan Prabowo dengan TGB tentu akan makin mengafirmasi betapa kelompok ini adalah mereka yang peduli tentang kiprah keberislaman yang hakiki. Seiiring waktu, persisnya pasca pilgub di beberapa daerah baru-baru ini, rupa-rupanya isu ini sudah mulai sayup terdengar, salah satunya lantaran formasi koalisi parpol di pilkada tidak berbandng lurus dengan formasi koalisi parpol untuk pilpres. Terbukti, di beberapa daerah, banyak partai pendukung pemerintah memetik buah kemenangan, dan yang paling penting, di Jawa Tengah, calon PDIP masih tetap unggul, setidaknya menurut hasil perhitungan cepat dari berbagai lembaga survei.

Apa artinya semua ini bagi TGB yang hendak mewujudkan impiannya menjadi wapres Prabowo? Pertama, Partai Gerindra sendiri harus membuat kalkulasi ulang. Jika salah memilih wakil presiden pendamping Prabowo, bisa jadi dia sendiri tidak menemukan kawan berkoalisi mengingat partai-partai lain merasa berada di atas angin pasca pilkada kemarin. Sekurang-kurangnya, kecil kemungkinan Gerindara akan memilih kandidat wapres di luar partai, apalagi tanpa restu dari pasangan tiga serangkai lainnya, yaitu PKS dan PAN. Di sini, langkah TGB sepertinya terkunci sebab PKS sudah punya pilihan dari kadernya sendiri, sebagaimana yang sering kita dengar dari pernyataan Mardani Ali Sera, sang pencetus tagar “2019 Ganti Presiden” itu. Jangan lupa pula, diam-diam, si politisi gaek, siapa lagi kalo bukan Amin Rais, telah terinspirasi kemenangan Mahathir Mohammad di pemilu Malaysia baru-baru ini untuk maju menantang Jokowi, siapa tahu dia pun beruntung, siap tahu. Kalau begitu, bukankah masih ada persaudaraan alumni 212 di sini, tampat TBG pernah satu barisan di depan Monas? Hai, mereka masih berharap Habib Riziek bakal pulang jika saatnya sudah datang.

Pilihan ketiga ialah mendorong lahirnya jalan ketiga, yang hendak dijajaki oleh partai Demokrat—kebetulan TGB adalah kader partai Demokrat. Sebetulnya, sandainya poros ini terwujud, Jokowi bisa saja terancam dan mungkin pulang duluan seperti Jerman dan Argentina di babak penyisihan. Hal ini karena poros ketiga bisa memicu pilpres berlansung dua putaran. Sekenarionya begini: pada putaran pertama, banyak suara pendukung Prabowo dan Jokowi akan tergerus ke ceruk yang diciptakan oleh poros ketiga ini, yang mengakibatkan ketiga kubu harus berjibaku habis-habisan untuk mendapatkan perolehan suara lima puluh persen peles satu, dan itu sangat sulit, termasuk untuk seorang Jokowi, walaupun ia berpotensi menggenggam suara mayoritas. Pada saat pilpres di putaran kedua, maka akan datang masa tatkala pimilik suara mayoritas akan menjadi common enemy, kepedihan dari kutukan macam ini telah dirasakan oleh PDIP berkali-kali: ketika Megawati tersingkir dari kursi presiden oleh SBY pada pilpres 2004, dan yang kedua ketika Jarot dipaksa mengungsi ke Sumatra Utara untuk mencoba peruntungan lain pasca ditekuk habis oleh Anies-Sandi. Kutukan yang serupa boleh jadi akan diterima PDIP seandainaya poros ketiga berhasil diciptakan sang maestro, SBY. Jangan salah, seperti dalam sepak bola, politik pun punya mitos: kutukan maut bagi juara bertahan.

Tapi, lepas dari itu, persoalan kita ialah seberapa besar kesempatan TGB, kader demokrat yang konon disayang SBY ini, bisa dengan begitu saja menyingkirkan si putra mahkota, AHY? Peluang ini, lebih sulit lagi karena ialah suatu hal yang hampir tidak mungkin untuk menyandingkan AHY dan TGB. Seperti yang sudah saya kemukakan tadi, bayang-bayang presidential threshold sudah mengunci jenis siasat macam ini. Padahal, formasi ini terlihat sempurna dalam mitos abadi khas adat demokrasi Indonesia: sipil-militer, Jawa-luar Jawa, nasionalis-religius. Apa daya, SBY saja tidak berani bermimpi untuk mendudukkan anaknya pada posisi satu untuk kali ini walaupun sang ayah adalah mantan nakhoda yang andal, sementara dalam pilpres tidak ada posisi ketiga, tempat yang bisa disinggahi TGB. Lagi pula, buat apa capek-epek membuat poros baru kalau bukan untuk mereka yang memiliki darah biru?

Dari ketiga pilihan di atas, memang langkah politis yang paling masuk akal yang bisa diterobos oleh TGB menjelang injury time ini ialah membanting arah mimbar, yang tadinya masih satu saf berjemaah dengan barisan 212 di kubu Prabowo, menjadi satu deret di kubu barisan yang telah selalu memberikan tanda pada dahi para pendukung Jokwi bahwa pada barisan itu banyak bercokol para penista agama. Untuk seorang TGB, langkah ini tentu baik, tapi tidak untuk para fans-nya, terutama bagi mereka yang telah terlalu lama dimabuk kepayang oleh sihir kharismatik TGB. Mereka tetap saja akan memandang, bagaimana mungkin TGB, sang tuan guru itu, yang tidak pernah berhenti berkeliling memberi petuah agama seantero nusantara, tiba-tiba, tanpa tedeng aling-aling, bisa dengan mudah “berpaling”. Mereka tidak terima, maka segala cerita tentang itu tetap akan dianggap hoax. Padahal, mereka hanya sedang lupa, TGB adalah politisi, tepatnya politisi yang cerdik.

Sikap TGB yang “berpaling” ini tentu bukan tanpa nostalgia, sebab umat telah terlalu lama berharap. Ini saatnya Tuan Guru berdiri di barisan umat, yang sekian lama harap-harap cemas karena di bawah rezim pemerintah yang sekarang dipandang penuh dengan antek-antek asing dan komunis, banyak pemuka agama tiba-tiba durundung orang gila. Sendainya umat NTB ialah Cinta dan TGB adalah Rangga dalam epik Ada Apa Dengan Cinta, amarah mereka yang tak tertahanakan pasti sudah meneriakkan bahwa “Apa yang dilakukan oleh TGB itu jahad” (tidak pake t). Tapi, tetap saja, pilihan itu ada di tangan TGB. Satu hal yang hampir pasti, jika TGB tetap bersikeras mendukung barisan kubu Jokowi hanya untuk mengejar posisi wapres, dan katakanlah dia berhasil menjadi cawapres, maka kelak dia bisa saja melenggang jadi wapres dengan selamat namun secara perlahan mulai ditinggalkan umat. Sebaliknya, jika dia masih bertahan di kubu Prabowo, TGB bisa saja tamat

namun masih punya umat.

*Peneliti pada Lembaga Riset Kebudayaan dan Arus Komunikasi (LITERASI) NTB Dosen bidang analisis wacana FKIP Unram

Comments
Loading...