Tukang Parkir Bejat Ditangkap Unit PPA Polrestabes Surabaya

Detiknews.id Surabaya – AW (22) pantas dihukum berat. Pemuda 22 tahun itu tega mencabuli Bunga (samaran.red) yang masih berusia 15 tahun. Kini, dia harus berhadapan dengan penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya.

Pria yang bekerja sebagai tukang parkir di salah satu kafe itu dilaporkan orang tua Bunga. Korban mengaku telah dicabuli di taman Nginden Intan.

”Tidak sampai disetubuhi. Hanya meremas payudara dan memasukkan jari tangannya ke alat vital korban,” ujar Kepala Unit PPA AKP Ruth Yeni. Jum’at (05/07/2019)

Menurut Ruth,  korban dengan tersangka baru kenal sekitar dua bulan. Perkenalan mereka dimulai dari salah satu game online. Di dalam permainan itu ada fitur yang membuat para gamers bisa saling berkomunikasi via pesan singkat.

” Setelah saling kenal, keduanya saling tukar nomor ponsel. Komunikasi antara tersangka dan korban semakin intens. Bahkan, percakapan mereka sudah mengarah ke hal-hal yang kurang pantas. Seperti membicarakan soal hubungan badan layaknya suami istri,” ungkapnya.

Lanjut Ruth, Tersangka mengancam korban melalui foto bugil yang ada padanya. Dengan foto korban, tersangka meminta bertemu ditempat sepi ditaman Nginden Intan. Tersangka melampiaskan nafsu bejatnya dengan meraba-raba bagian vital korban.

” Perbuatan bejat itu dilakukan sampai dini hari. Hingga akhirnya, korban pulang larut. Hal itulah yang membuat korban dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya. Sebab, selama keluar rumah, ponsel korban tidak bisa dihubungi. Saat dimarahi itu korban mengaku kalau telah dicabuli oleh tersangka,” kata Ruth.

Mantan Perwira Unit Reskrim Polsek Wonokromo itu menyatakan jumlah korban yang terdata dalam ponsel tersangka ada belasan orang. Penyidik masih mendalami dan mencari tahu identitasnya. Barang bukti yang diketahui oleh berupa rekaman video call tersangka dengan korban lain,” pungkasnya.

AW menjawab enteng saat ditanya alasannya mencabuli para korbannya. Dia beralasan hal itu hanya sebagai hiburan. Selain itu, dia mengaku tidak punya uang kalau harus menyewa tempat untuk berbuat lebih, misalnya berhubungan badan. Saya khilaf,” ucapnya.

” Selama ini korbannya memang rata-rata masih anak-anak. Kebanyakan masih duduk di bangku SMP. Ada pula yang baru masuk SMA. Menurut dia, anak SMP atau SMA lebih mudah dirayu dan diancam. Tidak pernah (korban dewasa, Red). Saya menyesal,” ungkapnya. (M9)

Komentar

Berita Terkait