oleh

Korupsi Pengadaan Sejuta Bibit Kopi Mamasa, Penyidik Temukan Alat Bukti Baru

SulBar, MAMASA, detiknews.id – Lanjutan penyidikan kasus korupsi pengadaan sejuta bibit kopi di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat, berpotensi menambah daftar tersangka baru setelah sebelumnnya PPK terseret menjadi tersangka sejak tahun 2019 oleh penyidik Pidsus Kejati Sulsel.

info DetikNews.ID

lanjut baca berita

Kajati Sulbar melalui Asisten Pidana Khusus (Pidsus), Feri Mupahir, mengatakan penyidik pidana khusus, tengah intens mendalami kasus pengadaan sejuta bibit kopi di Kabupaten Mamasa. Kata dia, jika penyidik kembali menemukan alat bukti dipastikan akan ada tersangka lain.

“Sepanjang alat bukti terpenuhi atau dua alat bukti cukup, kita akan kembali tetapkan tersangka lain, jadi tunggu saja, yang pastinya kami dalami kasus ini,“ ungkapnya. Rabu 14/10/2020.

Untuk modus operandinya pihak penyidik masih mendalami, namun untuk sementara dalam kasus ini diketahui ada mark-up harga. Dan soal mark–up harga ini, penyidik juga masih mendalami. Namun kasus ini sudah ditemukan kerugian negara sebesar 1,1 Miliar.

Dugaan perbuatan culas, yang merugikan keuangan negara kurang lebih 1,1 Miliar, kini sudah menyeret sang PPK inisial N menjadi tersangka. Dan kabarnya, penyidik akan mendalami lagi untuk membongkar siapa saja yang terlibat dalam program pengadaan sejuta bibit kopi di Kabupaten Mamasa tahun 2015.

“Semua dalam proses penyidikan untuk kasus pengadaan sejuta bibit kopi di Mamasa, hari Kamis depan kami akan panggil lagi untuk diperiksa lanjutan tersangka inisial N. Dan tersangka N ini adalah sebagai PPK nya,” kata Aspidsus Kejati Sulbar.

Seperti diketahui, kasus pengadaan sejuta bibit kopi sebelumnya sudah memiliki tersangka satu orang sejak tahun 2019. Dalam kasus dugaan korupsi pengadaan satu juta bibit kopi di Kabupaten Mamasa. Saat itu, tim penyidik Pidsus Kejati Sulsel, sudah menetapkan seorang pejabat Pemerintah Daerah (Pemda) Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) inisial N sebagai tersangka.

Kegiatan pengadaan 1 juta bibit kopi di Kabupaten Mamasa, Sulbar pada tahun 2015 yang dimenangkan oleh PT Surpin Raya diduga mengadakan bibit yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang tertera dalam dokumen lelang. Di mana dalam dokumen lelang disebutkan pengadaan bibit kopi menggunakan anggaran senilai Rp 9 miliar dan juga disebutkan bahwa bibit kopi unggul harus berasal dari uji laboratorium dengan spesifikasi Somatic Embrio (SE).

Namun dari 1 juta bibit kopi yang didatangkan dari Jember tersebut, terdapat sekitar 500 ribu bibit kopi yang diduga dari hasil stek batang pucuk kopi yang dikemas di dalam plastik dan dikumpulkan di daerah Sumarorong, Kabupaten Mamasa. Biaya produksi dari bibit laboratorium diketahui berkisar Rp 4.000 sedangkan biaya produksi yang bukan dari laboratorium atau hasil stek tersebut hanya Rp1.000. Sehingga terjadi selisih harga yang lumayan besar.

Dari hasil penyidikan yang dilakukan penyidik Pidsus Kejati Sulsel, pihak rekanan dalam hal ini PT. Surpin Raya diduga mengambil bibit dari pusat penelitian kopi dan kakao (PUSLITKOKA) Jember sebagai penjamin suplai dan bibit. Diduga bibit dari Puslitkoka tersebut merupakan hasil dari stek. (GP)

DIRGAHAYU TNI 75

Komentar

Berita Terkait