Beralas Karpet Merah Cabuli 6 Anak, Polisi Tangkap Pelaku

Detiknews.id Surabaya – Muanam (50) warga Desa Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur, diamankan Subdit IV Renakta Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur. Akibat melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur. Kegiatan ungkap kasus berada di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya.

Dalam wawancara, Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol R Pitra Andrias Ratulangie mengatakan, kasus ini terjadi pada 2018 silam. Ada 6 anak laki-laki berusia di bawah umur yang menjadi korban pencabulan.

“ Pencabulan yang dilakukan tersangka sejak 2008. Kemudian pada tahun 2018, ada 6 korban yang kita ketahui. Pada akhir bulan November ini anggota kita dari unit Asusila berhasil menangkap tersangka di Tulungagung,” tuturnya. Jum’at (29/11/2019)

Masih dengan Pitra, dari hasil penangkapan ini tim penyidik mengamankan barang bukti berupa karpet merah yang kerap digunakan melancarkan aksinya bejatnya di rumah.

” Berdasar hasil penyidikan terhadap saksi korban dan tersangka, bahwa tersangka melakukan kegiatan asusila seperti meraba-raba hingga (maaf) mengulum alat vital korbannya hingga keluar air mani. Bahkan parahnya, ada beberapa korbannya yang sampai disodomi,” ungkapnya.

Lanjut Pitra, Korbannya anak-anak di bawah umur, dengan aksi mengajak minum kopi di warungnya karena tersangka punya usaha warung kopi dan rumahnya berseberangan dengan warung kopi.

” Akhirnya, anak-anak muda itu diajak minum kopi kemudian dia minta nomor WA (Whatsapp). Saat terjadi komunikasi para korban ini diiming-imingi imbalan uang. Selanjutnya tersangka melakukan perbuatan yang melanggar hukum,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Polda Jatim. Langkah hukum yang tegas sangat dibutuhkan untuk menghentikan tindak kekerasan pada anak usia di bawah umur. Mengingat, saat ini angka kekerasan pada anak masih sangat tinggi.

Foto : Barang bukti dan tersangka – detiknewsid/m9

“Kami mengenal kebiri, tapi kebiri sebagai rehabilitasi bukan sebagai balas dendam. Karena sering petugas kedokteran tidak mau kalau tidak menyembuhkan. Ini justru tindakan menyembuhkan menyadarkan pada pelaku bahwa libidonya terlalu menggebu supaya tidak melakukan ulang. Jadi kebiri sebagai rehabilitasi,” kata pria yang akrab disapa Kak Seto itu.

Harapannya, ada langkah preventif yang dilakukan oleh semua pihak karena korbannya adalah anak-anak yang bisa terjadi di mana saja.

Akibat perbuatannya tersangka dijerat Pasal 82 UU RI Nomor 17 tahun 2016 juncto UU RI Nomor 23 tahun 2003 karena tindak pidana kekerasan seksual pada anak usia di bawah umur. Dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun penjara. (M9)

Komentar

Berita Terkait