oleh

Lia Istifhama : Tatap Muka Setelah Vaksin, Pentingnya Pendidikan dan Kesehatan

Detiknews.id Surabaya – Sekolah tatap muka merupakan target Pemerintah, terutama guru dan dosen. Untuk dibuka vaksinasi dan sesai di bulan Juni 2021 mendatang. Terkait ini, Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Lenny N. Rosalin menghimbau tetap dengan protokoler kesehatan, seperti memakai masker sendiri-sendiri dan rajin cuci tangan.


info

DetikNews.ID



setelah ini


lanjut baca berita


Dalam program Trijaya Hot Topic Pagi,  Lenny mengatakan bahwa infrastruktur pendukung juga harus memadai. Seperti ada beberapa siswa siswi yang ke sekolah naik sepeda, angkutan umum atau jalan kaki, mereka harus dihimbau agar tidak selalu berkerumun saat menggunakan kendaraan menuju sekolah.

“Pentingnya tatap muka bukan tanpa alasan. Dalam survery Kemen PPPA selama September dan Oktober tahun lalu, banyak siswa siswi mengalami depresi selama pandemi. Akibat siswa siswi tetap di rumah, tidak bertemu dengan teman sekelasnya, dan tidak bisa berinteraksi langsung dengan guru. Harapannya, nanti saat sekolah sudah dibuka bisa mengurangi tingkat depresi dari para siswa dan siswi,” jelasnya.

Dari kalangan aktivis millennial, yaitu Dr. Lia Istifhama memaparkan, hal ini merupakan wacana baik yang harusnya disikapi positif dan didukung semua pihak.

“Saya pernah baca berita, bahwa pemerintah sempat memunculkan wacana rencana tatap muka di awal 2021. Namun alih-alih terealisasi, yang ada malah beberapa pihak yang kontra dan menyalahkan pemerintah dengan alasan tidak peduli kesehatan anak-anak. jujur saya sebagai ibu dari dua anak dan warga negara Indonesia, heran dengan sikap orang-orang yang seakan garang bersuara tapi tidak berpikir holistik”, jelas Tokoh Muda Inspiratif Jatim versi FJN ini.

Lanjut Ning Lia, Holistik dalam hal ini adalah pentingnya kita berpikir banyak aspek. Cek berbagai fakta yang tidak bisa dimunafikan. Pemilukada 2020 lalu menimbulkan banyak kejadian kerumunan massa. Apa kemudian mereka yang berkerumun saat itu lantas kena Covid 19 dan mati bergelimpangan di pinggir jalan? Terus cek juga mall-mall yang semakin kesini, semakin ramai pengunjung.

“Ada yang kemudian sakit sesak nafas atau kena gejala Covid hanya karena mereka sekian jam berbelanja? Juga cek fakta-fakta lapangan lainnya. Yang pentingkan anak-anak sekolah dengan Prokes berjalan”, paparnya.

Menurut Ning Lia, pemerintah sudah melakukan sedemikian cara untuk menekan Covid 19. Saya kira pemerintah sudah berhasil, kok. Kalau kita masih tidak puas, bagaimana pemerintah bisa membuat kebijakan yang adaptif dengan kebutuhan masyarakatnya? Terutama kebijakan terkait masa depan generasi muda.

“Banyak pihak yang khawatir terjadinya lost generation. Generasi yang hilang akibat Pendidikan dan ilmu tidak diserap secara optimal. Ini fakta yang sangat fakta, yah. Banyak lho, anak-anak yang kecanduan gadget lalu mengalami telat bicara, males gerak, obesitas, males berpikir apalagi mikir hitung-hitungan. Banyak anak juga yang mengalami problem psikis karena tidak mau diganggu saat main game online. Itu nama konteksnya kesehatan mental, mata dan psikis?”, jelas Ketua III STAI Taruna Surabaya.

Ning Lia menambahkan, sangat disayangkan jika aspek kognitif dan pertumbuhan anak-anak, terutama usia PAUD, TK, dan SD diabaikan oleh kita sebagai generasi dewasa. Karena kedewasaan kita dapat terbukti saat kita berpikir generasi anak-anak. Jangan kita yang orang tua, cuma mikir anak kita sendiri, tapi cuek dengan anak tetangga yang jadi “aneh” gara-gara gadget.

Ingat ya, banyak lho anak-anak yang juga terpengaruh sikap-sikap yang tidak bener. Contohnya, konten anak lelaki dengan gaya genit. Budaya pembatasan gadget untuk anak-anak diberlakukan lagi.

“Dulu tahun 2017 ramai menjadi perhatian publik agar ada pembatasan gadget atau gawai. Direkomendasikan oleh Akademi Pediatri Amerika saat itu, bahwa waktu maksimal bagi anak usia 2-5 tahun untuk bersentuhan dengan gawai hanya 1 jam per hari.

Itu pun orang tua harus memastikan anak menonton program berkualitas tinggi. Sedangkan anak berusia 18 bulan ke bawah tidak direkomendasikan bersentuhan dengan gawai sama sekali. Jadi saat itu literasi, yaitu menulis dan membaca, serta permainan non gawai menjadi penting untuk diinternalisasi sebagai kebiasaan anak-anak. Sekarang apa, coba?”, pungkas Sekretaris MUI Jatim tersebut. (M9)

Komentar

Berita Terkait