- Advertisement -

dr. Beta Antipasi Hoax, Pilihlah Dokter Kompeten Untuk Bedah Plastik

0 108

Detiknews.id Surabaya – Hotel JW Marriott yang berlokasi di Jalan Raya Embong Malang Surabaya, menjadi tempat pilihan berlibur dr.Beta Subakti Nataatmadja Sp BP-RE (K) merupakan Dokter Spesialis Bedah di Rs.Onkologi Surabaya.

dr. Beta berlibur bersama istri dan anak- anaknya. Dengan mengundang Detiknews.id berharap bisa diketahui masyarakat dan dipublikasikan, edukasi akan pentingnya Dokter yang Kompeten di bidangnya melalui riset untuk hasil maksimal dalam pelayanan kesehatan.

dr. Beta Subakti Nataatmadja Sp BP-RE (K) yang kesehariannya bekerja di RS.Onkologi Surabaya menjelaskan, bedah plastik itu cabang dari ilmu bedah yang dibagi menjadi dua. Satu bedah rekonstruksi dan satu bedah estetik.

DPD FERARI Jatim

” Bedah rekonstruksi contohnya kasus kecelakaan yang kondisinya di bawah normal lalu kita perbaiki atau benahi menjadi kondisi mendekati normal seperti luka bakar, kecelakaan tulang wajah dan sebagainya,” tuturnya. Minggu (07/07/2019)

Lanjut dr. Beta, selain itu, operasi kecantikan membuat orang yang normal menjadi lebih normal contohnya, membesarkan payudara, memancungkan hidung dan lain sebagainya. Yang menarik dibahas adalah bedah kecantikan seperti yang sedang booming sejak ada trend budaya dari Korea.

” Disana bedah kecantikan semakin maju dan jadi satu kebutuhan sedang di Indonesia sendiri sekarang terpengaruh sehingga permintaannya cukup tinggi yang berimbas pada masyarakat harus tahu bahwa bedah estetik tidak hanya membuat semakin cantik dan menarik,” ungkapnya.

Selain syarat yang harus dipenuhi harus waspada karena pada beberapa kasus, penanganan bedah plastik tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak berkompeten. Waspada ada tiga hal yang harus diperhatikan antara lain : Satu, kita harus tahu siapa orang yang menangani, apakah dokter atau bukan. Kalau dokter, yang berkompeten dilihat dari latar belakang pendidikan, spesialisasinya, dan jam terbangnya, karena itu hak pasien untuk bertanya.

” Selanjutnya kedua, kita harus tahu metode yang dipakai. Misalnya membesarkan payudara. Kita harus tahu cara apa yang digunakan, karena banyak pilihannya dan tidak semuanya benar dan tidak semuanya aman. Kita harus tahu risiko tindakan itu apa. Yang terakhir, ketika kita mau dimasuki implan misalnya untuk payudara atau hidung, kita harus tahu  implan itu produknya darimana, caranya seperti apa, dan risikonya apa. Contoh, dulu sampai tahun 2011 kita masih bisa yakin itu tidak ada korelasinya dengan kanker.

Pesan saya, jadilah pasien yang cerdas dan bijaksana. Sehingga sebelum kita melakukan prosedur kita tahu risikonya. Karena risiko itu selalu menempel, tidak ada tindakan yang seratus persen bebas risiko, itu hal yang mustahil. Pasti ada risiko, tinggal seberapa besar risiko itu, tergantung kompetensi orang yang memberikan tindakan,” pungkas dr.Beta.

Contoh, dulu sampai tahun 2011 kita masih bisa yakin itu tidak ada korelasinya dengan kanker. Tapi di tahun itu, di Eropa dan Amerika ditemukan bahwa ALCL, kanker yang muncul dari kapsul implan payudara. Nah itu, pasien harus tahu risiko walaupun temuannya baru sedikit yakni 1 banding 60 ribu. (M9)

- Advertisement -

Comments
Loading...