Detiknews.id – Dalam menjalankan tugasnya sebagai Satgas Pamrahwan, berbagai kegiatan dilakukan oleh Yonif 711/Rks untuk mendukung percepatan rekonsiliasi di Maluku secara utuh, di antaranya dengan menumbuhkan toleransi dengan mengajar mengaji kepada anak-anak di Desa Iha.
Hal tersebut disampaikan Dansatgas Yonif 711/Rks, Letkol Inf Fanny Pantouw, M.Tr. Han., M.I.Pol. dalam rilis tertulisnya, Seram Bagian Barat, Maluku, Sabtu (9/2/2019).
Diungkapkan Dansatgas, dalam mendukung pemulihan dan rekonsiliasi masyarakat di Maluku harus dilakukan dengan soft therapy.
“Yaitu, harus membangun saling kepercayaan dan kepedulian baik di dalam internal kelompoknya maupun dengan yang lain,” tutur Fanny.
“Dari sejarah Maluku, di sini dikenal Pela Gandong, namun karena ada yang mengusik, akhirnya nilai luhur masyarakat Maluku itu pun hampir terkikis. Namun, saat ini, kita lihat bersama, kehidupan sosial masyarakat berangsur mulai membaik dan normal,” tambahnya.
Demikan juga dengan masyarakat desa Iha yang sudah membangun kehidupan selayaknya sebelum kerusuhan dengan masyarakat Negeri Luhu.
“Ini bisa dilihat dari momen MTQ se Kabupaten SBB (Seram Bagian Barat), tanggal 25 s.d. 28 Januari 2019 lalu yang dipusatkan di Negeri Luhu. Masyarakat kedua desa tersebut bahu membahu membangunkan panggung dan menyukseskan acara tersebut,” terang Fanny.
Berkaca dari hal tersebut, tambah Fanny, kegiatan (MTQ) baru lalu ini, dijadikan sebagai momentum kembali nilai-nilai luhur masyarakat (Pela Gandong) melalui penanaman kembali toleransi, kebersamaan, kekeluargaan serta kerukunan antar umat beragama.
“Termasuk, bersama pemuka agama maupun tokoh setempat, kita pupuk dari keimanan dan ketakwaan mereka sesuai agamanya masing-masing, diantarnya dengan mengajar mengaji bagi anak-anak desa Iha,” tandasnya.

Komentar