oleh

Presiden LSM LiRa Angkat Bicara Soal Dinas Pendidikan Babel Keluarkan Surat Wajib Membaca Karya Buku Felix Siauw

Print This News Print This News

Detiknews.id , Pangkalpinang —  Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Muhammad Soleh menjadi perbincangan dan di protes berbagai pihak, pasalnya Dinas Pendidikan Babel mengeluarkan surat edaran kepada Cabdin Kabupaten/Kota agar siswa wajib membaca dan merangkum buku karya Ustad Felix Siauw yang di duga sebagai aktivis ormas HTI.

info DetikNews.ID

lanjut baca berita

Dalam waktu singkat surat edaran Dinas Pendidikan Babel tersebut menjadi viral dan heboh di tengah-tengah masyarakat.

Dalam surat yang viral tersebut, di instruksikan kepada siswa untuk membaca buku ‘Muhammad Al Fatih 1453’ penulis Felix Siauw. Selanjutnya, siswa diminta merangkum isi buku tersebut dengan gaya bahasa masing-masing peserta didik.

Surat Edaran Dinas Pendidikan Babel yang Viral karena mewajibkan Siswa membaca dan merangkum isi buku tersebut.

Terkait hal itu, Presiden LSM LiRa, H. Drs. Jusuf Rizal, SE., SH., M.Si mengatakan bahwa jika surat edaran mewajibkan siswa membaca buku itu tidak dapat di benarkan dan cenderung masuk pada penyalahgunaan kewenangan, apalagi ini menyangkut akidah.

Buku yang wajib adalah buku yang menjadi kurikulum pendidikan.“Karena ini ada unsur paksaan melalui edrat edaran resmi dan wajib, ini bisa digolongkan penyalahgunaan wewenang.

Bisa dikategorikan tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN),” tegas Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat), HM. Jusuf Rizal saat di konfirmasi, Jumat (02/10/2020).

Jika kebijakan itu dijalankan, maka lanjut pria berdarah Madura-Batak itu, LSM LIRA akan memproses Kepala Dinas Pendidikan ke penegak hukum, Menteri PAN RB, Tjahyo Kumolo, Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, Mendagri Tito Karnavian dan pihak terkait.

Setiap buku yang menjadi mata pelajaran wajib tentu melalui proses seleksi. Tidak bisa serta merta Dinas Pendidikan membuat edaran wajib.

“Itu pemaksaan dan penyalahgunaan wewenang,” tegas Jusuf Rizal.

Tentang instruksi agar siswa SMA dan SMK sederajat se-Provinsi, untuk membaca buku Muhamad Al Fatih milik Felix Siauw.

“Substansi isi buku Muhammad Al Fatih 1453 karya Felix Siauw.

Terpisah, Ketua Komunitas Literasi Bangka Belitung, Feryandi Komeng mengutuk keras atas “kasus” ini. Ini merupakan kecelakaan dalam dunia pendidikan di Babel.

“Penguatan literasi itu harus dilakukan secara menyenangkan bukan memaksa. Apalagi ini sumber bacaan buku sangat berat untuk di cerna pelajar,” tegas Feryandi yang biasa di sapa Komeng ini.

Selama ini Dinas Pendidikan Bangka Belitung juga tidak pernah melibatkan kita sebagai pegiat literasi.

“Komunitas Literasi Bangka Belitung tidak pernah di ajak, membuat membahas, menyusun program penguatan literasi,” ungkap Komeng dengan nada kesal.

Kenapa harus membuat keputusan membaca dan merangkum buku karangan Felix Siauw yang semua orang saya pikir sudah tau sepak terjangnya.

Ada apa dengan dinas pendidikan Babel ini sebenarnya?.

Kenapa referensi atau sumber bacaannya tidak menggunakan buku-buku karya anak Babel. Ratusan judul buku yang sudah ditulis dan diterbitkan orang Babel,” tegas Komeng yang juga Ketua DPW Media Online Indonesia (MOI) Babel ini.(*/Rey)

Sumber : MOI BABEL

DIRGAHAYU TNI 75
Header

Komentar

Berita Terkait