- Advertisement -

Festival Bunga dan Buah Dinilai Tidak Tepat Sasaran

Panitia FBB hasilkan Miliaran Rupiah dari Pengelola Stand Kuliner dan Asongan

0 442

Detiknews.id Karo – Berakhirnya Festival Bunga dan Buah 2019 Minggu (7/7) pukul, bertambahlah sederet kegagalan Pemkab Karo melalui Dinas Pariwisata, setelah gagalnya Penanaman Bunga Tasbih oleh Ketua TP PKK Terkelin Sariati Brahmana yang mana terkesan memaksakan moment jelang Festival Bunga dan Buah (FBB). Selesai sudah Festival Bunga dan Buah 2019, tepat pukul 16.00 WIB di Podium Penghormatan jalan Veteran Betastagi ditutup langsung oleh Wakil Bupati Karo Cory Br Sebayang.

Event FBB dengan Anggaran Murni Dana APBD sekiran Rp 640.000.000,- yang mana menurut Kadis Pariwisata Mulia Barus beberapa waktu yang lalu Louncing Even Kelender Nasional, hanyalah isapan jempol belaka. Hal tersebut terkait dengan minimnya publikasi dari pihak Pemkab, hal tersebut dipertanyakan saat Mulia Barus mengadakan konferensi pers jelang FBB Senantiasa menggadang-gadangkan tidak ada anggaran.

Sementara temuan detikNews.id di lapangan, Ratusan Stand di lokasi Event FBB dari Tanggal 5-7 July 2019, stand-stand berwarna putih yang disediakan Dinas Pariwisata, tidak tepat sasaran dengan tema FBB, contoh kecilnya dengan hadirnya stand seribu bunga, namun minimnya bunga yang ditampilkan sehingga tidak layak dikatakan sebagai Peserta Event Festival kalender Nasional.

DPD FERARI Jatim

Sementara anggaran Rp 640.000.000,- telah diregulerkan dalam APBD, dan perlu diketahui FBB bukan sebagai event penghasil PAD Anggaran, jadi sudah dipastikan tidak ada pengutipan untuk pengelolaan stand-stand tersebut. Namun kenyataan berbanding terbalik dengan hal yang disampaikan pengelolaan stand di lokasi yang berjumlah ratusan dikenakan biaya bervariasi mulai dan rata-rata di atas Rp.1000.000,-

Event FBB berskala Nasional diisi dengan berjibunnya pedagang emperan, mainan anak-anak dan aksesoris dari luar daerah, dan hampir sepanjang stand yang menyuguhkan kuliner tidak ada ciri khas masakan bertema Karo. Pengelola stand kuliner kebanyakan dari pihak-pihak luar tersebut sanggat disayangkan dan hampir tidak ada pengelola stand yang menjual hasil bumi berupa Bunga dan Buah yang merupakan event FBB.

Hal bernada kekecewaan disampaikan D.Singgarimbun (52), “kami pedagang buah di kota Berastagi hanya kami tidak ada dilibatkan dalam event pesta bunga dan buah untuk ambil bagian di dalam, harusnya yang dipamerkan dan dijual di dalam hasil bumi, bukan kosmetik dan mainan, diinformasikan pihak pemerintah juga 4 hari menjelang di buka”, ujarnya kesal.

Foto : Stand Desa Seribu Bunga Namun Minim Bunga yang merupakan Icon Festival Bunga dan Buah – detiknewsid/mawarginting

Mirisnya lagi dimana saat dikonfirmasi salah satu pengelola stand kuliner pemilik cafe yang ternama Beru Ginting (40) mengatakan, kita dikutip Sebesar Rp 1.300.000,-/3 (tiga) hari untuk kuliner, dan Rp. 1.200.000 untuk pedagang asongan ditambah uang listrik Rp. 20.000.- /harinya,” ujarnya.

Tambah Beru Ginting, tetap bayar karna semua bayar dan mereka telah berkoordinasi dengan pihak panitia. Janjinya akan diberikan kuwitansi bukti pembayaran,” terangnya di stand yang dikelolanya. Sabtu (6/7).

Lain lagi yang disampaikan Yudi Sitepu (30) warga Simalingkar Medan, Pengelola Stand Asasoris, yang tepat berada di samping gedung kesenian Taman Mejuah-juah mengatakan gak berani bayar stand yang depan kak, harganya Rp 1.200.000,-  belum sewa lampu ditambah karna minim pengunjung sebelah sini, makanya kosong tenda putih itu.

Saat ditanya dikenakan bayar berapa, Sitepu enggan menyebutkan sedikit saja karna bawa tenda sendiri seraya mengakhiri.

Amatan detiknews.id di lokasi, stand-stand di sekitar Aula Kesenian Taman Mejuah Juah, Pukul 17.43 WIB, terlihat banyak-banyaknya Pedagang yang menjerit karena kurangnya daya beli pengunjung, ditambah lagi tingginya bayaran untuk mengunakan stand di Festifal Bunga dan Buah. (War)

- Advertisement -

Comments
Loading...