- Advertisement -

Akibat Judi, Edward Gelapkan Miliaran Uang PT. Cakra Grup

0 343

Detiknews.id Surabaya – Pengadilan Negeri (PN) Surabaya yang berlokasi di jalan Raya Arjuna Surabaya, menjalani sidang lanjutan agenda pemeriksaan 4 orang saksi. Terdakwa Edward Wijaya Salim dalam kasus penggelapan dalam jabatan.

Terdakwa Edward bekerja sebagai auditor dan sebagai juru bayar hutang atau pembelian barang di PT. Cakra Perkasa Jaya Mulya, PT. Cakra Perkasa Jaya Abadi, PT. Cakra Perkasa Enginering, PT. Boerneo Rotating Pratama dan CV Cakra Perkasa Tekning.

Dalam keterangannya Edward Wijaya mengatakan, tiga orang saksi adalah benar teman saya. Dan benar mereka ketiga saksi menerima transferan sejumlah uang titipan dari saya,” ungkapnya. Rabu (12/06/2019)

Namun  dari pengakuan ketiganya mengatakan, kami tidak menerima imbalan atas transfer titipan itu. Saya tidak menerima imbalan. Cuma lewat saja.” ujar salah satu saksi saat di ruang sidang Garuda 2.

HRD perusahaan PT. Cakra Grup Saksi ke empat mengatakan, benar adanya terdakwa telah menggelapkan uang perusahaan, setelah ada audit keuangan menyebabkan perusahaan mengalami kerugian hingga sebesar Rp. 8 miliar.

” Benar pak hakim. ” ucap HRD saat ditunjukkan oleh hakim ketua Dede Suryaman disaksikan terdakwa dan JPU Nouvan dari Kejati Jatim.

Setelah dirasa cukup, Hakim melanjutkan persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa. Dalam keterangannya terdakwa mengakui bahwa dirinya memang melakukan penggelapan.

Edward mengakui, Iya pak, saya gunakan uang tersebut untuk judi. Saya juga buat foya-foya, jalan-jalan keluar negeri, Malaysia dan Singapura.

” Selama dirinya bekerja, setiap bulan dirinya mengambil uang perusahaan sebesar Rp. 400-500 juta. Tak hanya itu, saya juga sempat menjadi buronan,” jelasnya.

Terdakwa  menggunakan uang milik PT. Cakra Grup yang berada di Balikpapan membawahi tiga perusahaan yaitu (PT.Cakra Perkasa Engineering, PT. Borneo Rotating Pratama dan PT. Cakra Perkasa Jaya Abadi) sejak sekitar Bulan Juli 2017 hingga bulan Agustus 2018 sebesar kurang lebih Rp. 8.149.053.150,-.

Setelah diketok palu oleh Hakim, akibat perbuatannya terdakwa dijerat pasal berlapis dan diancam pidana dalam pasal 374, 372 KUHPidana Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana. (M9)

- Advertisement -

Comments
Loading...